Sebuah Peradaban Bawah Tanah Kota Malang

SEBUAH PERADABAN DARI ‘BAWAH TANAH’ KOTA MALANG
Sekarang kita menuju pada iklim panas kota Malang di tahun 80-an. Ketika rock & roll masih sanggup ‘menampar’ keras fenomena disko dan new wave. Bahkan musik rock mulai terdengar lebih heavy dan ekstrim. Berikut catatan singkat dan sekilas pandang tentang progresi budaya serta komunitas musik cadas dari bumi arema…

Periode Pemukul Batu & Logam [1980-an]
Memasuki dekade delapanpuluhan, embrio band-band lokal lebih banyak dimunculkan oleh kaum pelajar serta mahasiswa di wilayah sekolah dan kampus. Salah satunya adalah Bhawikarsu yang didirikan oleh para pelajar SMAN 3 Malang. Kelompok musik beraliran jazz-rock yang dipelopori Wiwie GV itu bahkan jadi semacam home-band di sekolah tersebut. Wiwie GV kemudian membentuk Gank Voice bersama Wahyu [vokal], yang juga dibantu oleh sejumlah musisi berbakat, termasuk gitaris Totok Tewel [Elpamas].Saat itu, Gank Voice termasuk kelompok yang cukup populer di Malang. Mereka sering diundang tampil dalam berbagai pentas musik dan festival band hingga ke luar kota. “Jaman dulu kita udah pernah diundang manggung ke Kalimantan, dikasih tiket pesawat dan dibayar tiga juta!” ungkap Wahyu GV. Konon Gank Voice juga sempat ditawari kontrak rekaman dan promo tur oleh Loggis records. Sayangnya kesempatan langka tersebut tidak diambil karena mereka memilih untuk menyelesaikan bangku kuliah terlebih dahulu. Band ini kemudian bubar di tengah jalan, dan ber-transformasi menjadi Arema Voice, band yang menciptakan lagu anthem Singa Bola untuk kesebelasan Arema.

Sementara itu dengung musik rock semakin keras, dan metal mulai mewabah. Band-band anyar yang beraliran hardrock, heavymetal ataupun speedmetal mulai bermunculan. Band asing seperti Van Halen, Judas Priest, Iron Maiden, Anthrax, Metallica, Motley Crue, atau Helloween jadi favorit dan pengaruh penting di kalangan anak muda. Hampir semua remaja di Malang hanya punya dua pilihan sederhana, suka musik rock, atau tidak suka musik sama sekali!

GOR Pulosari masih tetap jadi artefak penting dalam hikayat rock & roll lokal. Tak kurang dari Ikang Fawzi, Power Metal, Gito Rollies, Deddy Stanzah, Iwan Fals, Nicky Astria, Ita Purnamasari, Slank, hingga Dewa 19 sempat merasakan sakralnya venue tersebut. Dewa 19 dan Slank tercatat beberapa kali manggung di sana dan tidak pernah sukses. Bahkan Ita Purnamasari dan Nicky Astria pernah pulang menangis setelah menjalani ’show yang kejam’ di venue itu. Bukti bahwa ‘keangkeran’ Pulosari masih tetap langgeng…

“Jaman dulu, konser rock itu sangat jarang sehingga selalu jadi momen spesial dan tidak boleh dilewatkan,” kenang Bang Jun, seorang veteran penggila musik rock. “Jauh sebelum hari H-nya, semua orang mulai dari musisi sampai fans udah siap-siap dandan pol ala rockstar idola. Biasanya mereka meniru foto-foto atau poster yang ada di majalah Aktuil. Sampai-sampai mereka datang sendiri ke penjahit sambil membawa poster dan bilang kalo mo mesen pakaian seperti yang dipake David Bowie, Alice Cooper, atau Mick Jagger!’

Pada hari pertunjukan, ratusan penonton dengan dandanan hebohnya mulai berduyun-duyun berjalan kaki menuju venue. Mereka langsung mengantri di loket tiket maupun di pintu masuk dengan gemuruh ala penonton sepakbola. Sesampainya di dalam venue, anak-anak muda itu langsung serius menyimak panggung, bersenang-senang, dan siap ‘mengadili’ performance setiap band yang tampil di situ. Kejam!

Menjelang akhir dekade ‘80-an, terjadi perkembangan yang signifikan pada peta musik cadas kota Malang. Gemma [Generasi Musisi Muda Malang] muncul sebagai komunitas yang aktif menggelar pertunjukan musik lokal di kota ini. Selain GOR Pulosari, gedung DKM [Dewan Kesenian Malang] di daerah Comboran ikut menjadi alternatif venue yang lain.

Salah satu momen rock yang jadi highlight pada jaman itu adalah serial festival rock yang dimotori oleh promotor eksentrik dari Surabaya, Log Zhelebour. Event itu hampir selalu menempatkan Malang sebagai salah satu kota tempat pertunjukan yang penting. Ajang festival tersebut turut mendongkrak nama grupband lokal, Balance, yang masuk dalam album kompilasi 10 Finalis Rock Festival V produksi Loggis Records [1989].

Sedangkan pertunjukan rock yang paling legendaris adalah konser Godbless dalam rangka tur album Raksasa di Stadion Gajayana [1989]. Show tersebut cukup akbar, megah dan terbilang sukses. Puluhan ribu penonton memenuhi arena rumput dan disuguhi sound system berkekuatan besar – yang bahkan menurut masyarakat sayup-sayup masih terdengar di setiap sudut kota Malang.

Pada putaran generasi band lokal, muncul nama-nama baru seperti Dye Maker, Mayhem, atau Gusar. Ketika itu mereka masih sibuk di studio latihan, menyanyikan lagu-lagu kover, dan manggung di pentas-pentas festival. Bagi kebanyakan band, main musik pada jaman itu memang hanya sebagai hobi pengisi waktu luang semata. Mereka masih memilih untuk memainkan lagu-lagu favorit dari band asing, serta belum terpikir untuk serius berkarir di bidang musik. Setelah beberapa kali latihan dan merasa kompak, mereka biasanya segera mendaftar untuk ikut festival atau pentas musik lokal yang memang sangat marak saat itu.

Di jaman pra-MTV itu, musik rock dan metal sudah mulai mendapatkan ekspos yang ‘memukul’ di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia, tak terkecuali di Malang. Setiap kejadian dan berita musik juga terpublikasikan dengan baik. Media massa bahkan sempat mengklaim kota Surabaya dan Malang sebagai barometer musik rock di tanah air. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada peran seorang Log Zhelebour dan proyek-proyeknya sebagai motif utama di balik klaim tersebut – di samping tentunya pertumbuhan band lokal beraliran keras yang kian menjamur, serta antusiasme crowd lokal yang dikenal cukup ‘buas’.

Sekali lagi terbukti, musik cadas tetap menampakkan taringnya di dekade yang penuh warna-warni ini. Sayangnya kejadian-kejadian rock di jaman itu tidak terdokumentasikan dengan baik. Sehingga cukup sulit untuk sekedar mencari selembar foto, apalagi rekaman audio atau video. Namun dari ‘dongeng para veteran’ bisa disimpulkan bahwa gembar-gembor era 80-an sebagai jaman disko/new wave nyaris tidak terasa di kota Malang. Yang berlaku saat itu justru musik rock tetap menjadi raja, dan heavy metal adalah panglima!…



SEBUAH PERADABAN DARI ‘BAWAH TANAH’ KOTA MALANG [PART 2] Mar 17, ’08 2:09 PM
for everyone
Sekarang kita menuju pada iklim panas kota Malang di tahun 80-an. Ketika rock & roll masih sanggup ‘menampar’ keras fenomena disko dan new wave. Bahkan musik rock mulai terdengar lebih heavy dan ekstrim. Berikut catatan singkat dan sekilas pandang tentang progresi budaya serta komunitas musik cadas dari bumi arema…

Periode Pemukul Batu & Logam [1980-an]
Memasuki dekade delapanpuluhan, embrio band-band lokal lebih banyak dimunculkan oleh kaum pelajar serta mahasiswa di wilayah sekolah dan kampus. Salah satunya adalah Bhawikarsu yang didirikan oleh para pelajar SMAN 3 Malang. Kelompok musik beraliran jazz-rock yang dipelopori Wiwie GV itu bahkan jadi semacam home-band di sekolah tersebut. Wiwie GV kemudian membentuk Gank Voice bersama Wahyu [vokal], yang juga dibantu oleh sejumlah musisi berbakat, termasuk gitaris Totok Tewel [Elpamas].Saat itu, Gank Voice termasuk kelompok yang cukup populer di Malang. Mereka sering diundang tampil dalam berbagai pentas musik dan festival band hingga ke luar kota. “Jaman dulu kita udah pernah diundang manggung ke Kalimantan, dikasih tiket pesawat dan dibayar tiga juta!” ungkap Wahyu GV. Konon Gank Voice juga sempat ditawari kontrak rekaman dan promo tur oleh Loggis records. Sayangnya kesempatan langka tersebut tidak diambil karena mereka memilih untuk menyelesaikan bangku kuliah terlebih dahulu. Band ini kemudian bubar di tengah jalan, dan ber-transformasi menjadi Arema Voice, band yang menciptakan lagu anthem Singa Bola untuk kesebelasan Arema.

Sementara itu dengung musik rock semakin keras, dan metal mulai mewabah. Band-band anyar yang beraliran hardrock, heavymetal ataupun speedmetal mulai bermunculan. Band asing seperti Van Halen, Judas Priest, Iron Maiden, Anthrax, Metallica, Motley Crue, atau Helloween jadi favorit dan pengaruh penting di kalangan anak muda. Hampir semua remaja di Malang hanya punya dua pilihan sederhana; suka musik rock, atau tidak suka musik sama sekali!

GOR Pulosari masih tetap jadi artefak penting dalam hikayat rock & roll lokal. Tak kurang dari Ikang Fawzi, Power Metal, Gito Rollies, Deddy Stanzah, Iwan Fals, Nicky Astria, Ita Purnamasari, Slank, hingga Dewa 19 sempat merasakan sakralnya venue tersebut. Dewa 19 dan Slank tercatat beberapa kali manggung di sana dan tidak pernah sukses. Bahkan Ita Purnamasari dan Nicky Astria pernah pulang menangis setelah menjalani ’show yang kejam’ di venue itu. Bukti bahwa ‘keangkeran’ Pulosari masih tetap langgeng…

“Jaman dulu, konser rock itu sangat jarang sehingga selalu jadi momen spesial dan tidak boleh dilewatkan,” kenang Bang Jun, seorang veteran penggila musik rock. “Jauh sebelum hari H-nya, semua orang mulai dari musisi sampai fans udah siap-siap dandan pol ala rockstar idola. Biasanya mereka meniru foto-foto atau poster yang ada di majalah Aktuil. Sampai-sampai mereka datang sendiri ke penjahit sambil membawa poster dan bilang kalo mo mesen pakaian seperti yang dipake David Bowie, Alice Cooper, atau Mick Jagger!’

Pada hari pertunjukan, ratusan penonton dengan dandanan hebohnya mulai berduyun-duyun berjalan kaki menuju venue. Mereka langsung mengantri di loket tiket maupun di pintu masuk dengan gemuruh ala penonton sepakbola. Sesampainya di dalam venue, anak-anak muda itu langsung serius menyimak panggung, bersenang-senang, dan siap ‘mengadili’ performance setiap band yang tampil di situ. Kejam!

Menjelang akhir dekade ‘80-an, terjadi perkembangan yang signifikan pada peta musik cadas kota Malang. Gemma [Generasi Musisi Muda Malang] muncul sebagai komunitas yang aktif menggelar pertunjukan musik lokal di kota ini. Selain GOR Pulosari, gedung DKM [Dewan Kesenian Malang] di daerah Comboran ikut menjadi alternatif venue yang lain.

Salah satu momen rock yang jadi highlight pada jaman itu adalah serial festival rock yang dimotori oleh promotor eksentrik dari Surabaya, Log Zhelebour. Event itu hampir selalu menempatkan Malang sebagai salah satu kota tempat pertunjukan yang penting. Ajang festival tersebut turut mendongkrak nama grupband lokal, Balance, yang masuk dalam album kompilasi 10 Finalis Rock Festival V produksi Loggis Records [1989].

Sedangkan pertunjukan rock yang paling legendaris adalah konser Godbless dalam rangka tur album Raksasa di Stadion Gajayana [1989]. Show tersebut cukup akbar, megah dan terbilang sukses. Puluhan ribu penonton memenuhi arena rumput dan disuguhi sound system berkekuatan besar – yang bahkan menurut masyarakat sayup-sayup masih terdengar di setiap sudut kota Malang.

Pada putaran generasi band lokal, muncul nama-nama baru seperti Dye Maker, Mayhem, atau Gusar. Ketika itu mereka masih sibuk di studio latihan, menyanyikan lagu-lagu kover, dan manggung di pentas-pentas festival. Bagi kebanyakan band, main musik pada jaman itu memang hanya sebagai hobi pengisi waktu luang semata. Mereka masih memilih untuk memainkan lagu-lagu favorit dari band asing, serta belum terpikir untuk serius berkarir di bidang musik. Setelah beberapa kali latihan dan merasa kompak, mereka biasanya segera mendaftar untuk ikut festival atau pentas musik lokal yang memang sangat marak saat itu.

Di jaman pra-MTV itu, musik rock dan metal sudah mulai mendapatkan ekspos yang ‘memukul’ di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia, tak terkecuali di Malang. Setiap kejadian dan berita musik juga terpublikasikan dengan baik. Media massa bahkan sempat mengklaim kota Surabaya dan Malang sebagai barometer musik rock di tanah air. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada peran seorang Log Zhelebour dan proyek-proyeknya sebagai motif utama di balik klaim tersebut – di samping tentunya pertumbuhan band lokal beraliran keras yang kian menjamur, serta antusiasme crowd lokal yang dikenal cukup ‘buas’.

Sekali lagi terbukti, musik cadas tetap menampakkan taringnya di dekade yang penuh warna-warni ini. Sayangnya kejadian-kejadian rock di jaman itu tidak terdokumentasikan dengan baik. Sehingga cukup sulit untuk sekedar mencari selembar foto, apalagi rekaman audio atau video. Namun dari ‘dongeng para veteran’ bisa disimpulkan bahwa gembar-gembor era 80-an sebagai jaman disko/new wave nyaris tidak terasa di kota Malang. Yang berlaku saat itu justru musik rock tetap menjadi raja, dan heavy metal adalah panglima!…

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: