Krisyanto

Gitaris Jamrud: Krisyanto Bukan Siapa-Siapa Dulu, Aku Ambil Dari Nol
Gitaris Jamrud, Aziz MS, bercerita soal alasan di balik bongkar pasang vokalis dan soal mantan vokalis Krisyanto.
Oleh: Rama Wirawan
Share :
4 Komentar
image
Jamrud formasi terbaru (Foto: Rama Wirawan)
Jakarta – Setelah vokalis Krisyanto hengkang dari Jamrud pada 2007, gitaris Aziz Mangasi Siagian dan pemain bas Ricky Teddy adalah dua personel Jamrud yang tersisa dari masa-masa keemasan album Nekad (1996) sampai Ningrat (2000). Tidak mau berhenti di situ, mereka segera merekrut tiga personel baru untuk tetap bisa melanjutkan bisnis.

Maka dirilislah album penuh New Performance 2009 yang, menurut Aziz MS, sama sekali tidak sukses karena promosinya pun tidak maksimal. Ditambah lagi karena sebenarnya lagu-lagu di dalam album itu adalah materi yang telah dipersiapkan untuk Krisyanto. Sehingga mau tidak mau vokalis baru Jamrud, Jaja Amdonal, harus bisa menyanyikannya dengan karakter yang tidak boleh jauh dari karakter Yanto.

Respon dari para Jammers (julukan bagi para penggemar Jamrud) pun beragam. Banyak yang menilai bahwa karakter vokal Donal di situ terlalu meniru Krisyanto.
“Album baru ini kan saya masih pakai lagu lama. Otomatis kuping saya atau kuping Jammers tetap masih terbawa ke vokalis yang lama. Tapi nanti kalau kami mengeluarkan album baru, nah di situlah pembentukan dia,” kata Aziz kepada Rolling Stone pada Oktober 2010 silam.

Belum lama ini album baru itu pun dirilis. Namun, Jamrud ternyata melakukan manuver dengan menambahkan satu orang vokalis pada album yang diberi tajuk Bumi & Langit Menangis itu. Apa yang terjadi? Adakah itu merupakan dampak sepeninggal Krisyanto?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Rolling Stone menyambangi Jamrud pada Selasa (22/3) siang di Taman Mini Indonesia Indah. Di sana, kelompok musik rock yang terbentuk sejak 1989 itu akan melakukan syuting untuk videoklip bagi single pertama dari album baru mereka, “Sik Sik Sibatumanikam”.

Simak obrolan tiga puluh menit kami dengan gitaris dan salah seorang pendiri Jamrud, Aziz MS, tentang konsep album baru yang tidak bisa diterima oleh telinga sang produser eksekutif Log Zhelebour lantaran terlalu keras, serta seputar hengkangnya Krisyanto.

Jamrud menambah satu vokalis lagi. Seperti apa konsep album baru ini sehingga perlu memakai dua vokalis?
Dengan kami menarik vokalis lagi [Iwan] sebenarnya karena memang ada masalah di album ini. Karena lebih dari 50% lagu membutuhkan not-not yang tinggi. Sementara kalau hanya untuk recording, kami biasa mem-back-up suara-suara tinggi itu. Entah aku yang ikut di situ, nge-backing, atau cara-cara lain. Tapi masalahnya sekarang kita butuh backing-backing suara tinggi itu yang tidak hanya fill. Seperti fill gitar yang memperkuat aransemen. Justru kebanyakan malah di refrain-refrain-nya yang memang dominan.

Jadi, mau nggak mau kita sepakat untuk menambah vokalis yang bisa menjangkau not-not lebih tinggi dari vokalnya Donal. Di album ini sebenarnya vokalnya jadi tiga. Karena aku sendiri malah terlibat lebih banyak ketimbang Iwan. Karena di situ aku kan sudah memasukkan unsur-unsur scream, total scream, jadi full satu lagu. Nah, di album itu ada tiga lagu yang memang total scream. Jadi otomatis di album Jamrud 2011 ini jadi ada tiga vokalis.

Jadi apa elemen dalam album ini yang masih “sangat Jamrud”?
Ada beberapa lagu, seperti lagu yang kami mau buat klipnya “Sik Sik Sibatumanikam”, walau itu lagu Tapanuli tapi tetap kami bawakan dalam versi Jamrud. Yaitu meski lagunya sendiri bukan untuk membanyol, tapi cara membawakannya itu seperti kami menyanyikan lagu-lagu yang sebelumnya yang memang membanyol. Jadi seperti slengean, atau musiknya yang berpindah-pindah pattern.

Jamrud mengusung musik yang lebih keras untuk album baru, apakah itu merupakan suatu strategi untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh karakter kuat vokal Krisyanto?
Sadar atau nggak sadar, pasti ada strategi itu. Grup mana pun pasti ingin tetap survive tanpa harus dibandingkan dengan formasi yang sebelumnya. Cuma yang lebih utama adalah karena kami mau mengeksplor. Seperti aku sendiri, sebelum menggarap itu sudah membayangkan kalau gue main lagi musik industri seperti kemarin, maksudnya album-album sebelumnya, otomatis Jammers pada umumnya akan mencari lagu hits-nya saja. Sudah pasti terjebak seperti itu.

Dan otomatis aku membuat lagu-lagu yang memang ditujukan untuk menjadi hits, seperti dulu. Jadi musiknya sendiri porsinya hanya sebagai pengiring. Sementara yang sudah diniatkan adalah Jamrud ini harus eksplorasi kekuatan-kekuatan gitarnya, drumnya, vokalnya, basnya. Semuanya. Karena untuk Jamrud sekarang ini bukan popularitas atau hits yang dikejar, walaupun kami tidak akan menampik nantinya. Tapi di atas itu semua kami hanya butuh pengakuan bahwa Jamrud ini tetap ada, tetap nge-rock, walaupun zamannya ini zaman Melayu atau zaman lagu berdarah-darah. Di situlah eksistensi sebuah grup rock diuji.

Seberapa besar pengaruh kehilangan Krisyanto sehingga Jamrud harus melakukan dua kali perombakan di departemen vokal?
Kalau dibilang itu dampak dari Yanto mungkin nggak terlalu juga. Sebenarnya kalau hanya untuk memutuskan hubungan antara Jamrud baru dengan Jamrud lama dengan aku nyanyi scream tujuh lagu aja, itu sudah putus. Karena sudah berbeda banget. Sekarang seperti kita dengar Lamb of God, bagaimana mau disatukan dengan Yanto? Jauh… Jauh sekali.

Cuma masalahnya di sini aku nggak mau bikin suatu produk album yang tidak bisa diaplikasikan ke panggung dengan, minimal 90%, mirip. Makanya kami di sini mengakui kelemahan pada vokal kalau hanya menggunakan satu vokalis. Aku yakin, andaikan album ini digarap dengan Yanto sebagai vokalis, tetap aku keberatan. Karena Yanto pun tidak bisa menguasai not-not tinggi seperti di album ini. Not-nya memang masih suara laki, tapi banyak falsetto. Jadi seandainya pun itu digarap bersama Yanto, kami tetap butuh vokalis tambahan. Entah itu featuring atau hanya untuk di panggung.

Seandainya saat ini Krisyanto masih di Jamrud, apakah Jamrud akan pindah ke warna musik yang seperti ini?
Cikal bakal Jamrud itu kan sebenarnya dari musik seperti itu. Sebelum kami bikin album pertama kami sudah bawa Sepultura melulu. Kami nggak pernah bawain yang lain, hanya Sepultura, Whitesnake, atau Helloween. Jadi di album pertama ada lagu yang masih berbau Sepultura. Di album kedua juga ada. Begitu masuk di album ketiga dan seterusnya kami udah masuk ke industri.

Dengan kata lain, pada akhirnya kami nggak mau kerja bakti: buat lagu susah-susah hanya didengar oleh komunitas. Akhirnya kami bikin yang lebih bisa diterima masyarakat. Jadilah band industri. Nah, di album sekarang itu sama saja seperti kami, ah sudah ah kembali lagi seperti dulu lagi. Sepertinya asyik nih. Enjoy juga mainnya dan kami bisa eksplorasi. Sepuas-puasnya main, mau menunjukkan skill-nya sampai sejauh apa.

Album Jamrud terlaris adalah Ningrat (2000), tapi album-album setelah itu penjualannya merosot. Menurut Anda karena apa?
Sepertinya memang industrinya saja. Karena itu tidak hanya terjadi pada Jamrud. Tapi hampir ke rata-rata band yang ngeluarin album setelah Ningrat. Mereka merasakan hal yang sama. Yang tadinya mereka bisa menjual satu juta atau dua juta kopi, tiba-tiba hanya 400 bahkan 300 ribu. Bahkan ada grup yang harus gulung tikar karena tidak kuat dengan terpaan, karena industrinya melemah.

Jadi mungkin pada saat itulah siklus masyarakat musik Indonesia mencapai titik jenuh dengan band yang sudah bertahan, taruhlah, dalam kurun waktu lima tahun itu. Mungkin mereka butuh yang lebih fresh lagi. Memang di industri musik selalu begitu di mana pun juga. Dan kami memang harus bisa menerima. Ada beberapa grup atau beberapa penyanyi yang nggak bisa menerima, mereka lari, mengundurkan diri, atau vakum.

Apakah, menurut Anda, Krisyanto termasuk dari mereka yang mengundurkan diri karena putus asa dengan kondisi itu?
Kalau yang aku lihat dulu itu dia salah satunya seperti itu. Kan nggak lama setelah mengundurkan diri, dia buat album solo. Berarti alasannya pasti yang wajar-wajar. Seperti, “Wah, sepertinya gue harus survive nih. Sepertinya di Jamrud sudah agak susah nih.’ Ya, itu wajar. Dia mencoba jalan sendiri. Atau mungkin dia membentuk band lain. Itu memang tanda-tanda orang yang sudah terpukul dengan kondisi grupnya pada saat itu. Kalau setelah keluar terus dia tidak beraktivitas di musik lagi, seperti yang dia katakan, itu memang berarti dia ingin break di dunia musik.

Tapi kalau ini, sekian bulan langsung mengeluarkan album, berarti mau mencari income yang lebih. Cuma yang jelas kalau satu anggota band keluar dan dia membentuk lagi, berarti ada ketidakpuasan di band sebelumnya. Itu saja. Tapi kalau kita lihat dari sisi loyalitas, ya sayang. Kenapa tidak diteruskan aja? Toh, di grup lain atau di solo album kan pada kenyataannya tidak sehebat grup lamanya juga. Sayang juga.

Komentar Anda mengenai Jammers yang merasa kehilangan Krisyanto?
Pada akhirnya mereka selalu datang setiap kami ada kegiatan. Mereka juga welcome ke vokalis baru. Pada akhirnya satu grup itu disukai bukan karena si A atau si B. Tapi lebih ke bandnya, selain karena lagunya juga. Siapa yang tidak suka Yanto? Dia sudah menyanyikan lagu-lagu gue saja sebanyak 70 buah lebih. Otomatis sudah akrab banget, tapi begitu mereka melihat Jamrud bergerak, aktif, pada akhirnya pilihan ada di mereka. Mau ikut yang mana? Mau ikut vokalisnya atau grupnya? Walaupun ini isinya orang-orang baru, pada akhirnya mereka tetap ikut grupnya juga.

Kalau bicara jujur, apakah Anda kehilangan Krisyanto sebagai vokalis Jamrud?
Kalau mau bicara, kami sudah jalan 11-12 tahun, ya kehilangan. Aku dari nol sama dia. Dia bukan siapa-siapa dulu, aku ambil dia itu dari nol. Dia nggak punya band, dia nggak punya apa-apa, suaranya pun masih lempeng. Dipaksakan menyanyi lagu Sepultura yang harus nge-growl. Begitu dapat karakternya, buat lagu dengan model seperti itu, dengan lirik Indonesia. Istilahnya, kita sama-sama belajar. Dari nol, lalu sama-sama sukses. Tapi begitu sama-sama mau jatuh, dia lari. Ya… Gimana, ya?

Padahal pada saat itu aku berpikir, tinggal tunggu saja. Sambil kami juga, istilahnya, break-lah, istirahat selama dua sampai tiga tahun, karena kami juga sudah tur setiap tahunnya ke ratusan kota. Istilahnya kami juga bagi-bagi rezekilah ke band lain. Kan nggak ada salahnya. Sambil menunggu toh nggak akan sampai kelaparan. Hanya saja mungkin pemikiran dia berbeda. Makanya mungkin dia ingin mendulang emas lebih banyak. [tertawa] Tapi ya, itu, kehilangan sih kehilangan. Karena biar bagaimana pun juga, bukan berarti aku kurang suka sama Iwan atau Donal, nilai historisnya itu lebih besar dengan Yanto.

Apakah Jamrud masih membuka pintu untuk Krisyanto jika suatu saat dia ingin kembali?
Kalau buka pintu mungkin buka pintu, tapi vokalis gue yang dua ini bagaimana? Nggak enak atuh. [tertawa] Kami bicara masalah konsekuensi. Jammers pun ada satu atau dua orang, lewat Facebook atau SMS, setiap kita ada pergerakan, entah buat album baru atau konser di kota mana, ada saja yang ngomong, ‘Aduh sayang, ya. Coba kalau masih sama Mas Kris, pasti lebih bisa gimana, lebih gimana.’ Tapi saya merespon, ‘Ya mau bagaimana lagi?’ Kalau aku yang mendepak, bolehlah aku ngomong ‘Iya, nih. Gue juga menyesal. Kan ini dia yang mundur. Nggak mungkin aku tarik-tarik lagi, ‘To, please dong, vokalin lagi dong, pleeeaaase…’ sambil nunduk gitu. [tertawa]

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: